Kauman Kalesan, Jejak Perjalanan Masa Lampau di Cawas


Majelis Klaten - Kalesan, saat ini masjid tua Kalesan terletak di Dukuh Kauman, Desa Mlese, Cawas, Klaten. Sedangkan Dukuh Kalesan sendiri saat ini terletak di Desa Gombang, Cawas, Klaten. Mengapa bisa demikian? Demikianlah Belanda mengaburkan sejarah dan jati diri Bangsa Nusantara kita.

Dalam peta tua Belanda 1920 Masehi tidak tercatat adanya masjid tua di Kalesan atau Kauman saat ini.  Namun secara de facto, terdapat sebuah masjid dengan tanda-tanda yang bisa dianggap masjid tua. Mengapa? Karena masih terdapat bedug dan padasan, serta tutur warga setempat. Sedangkan keberadaan cagak papat atau 4 tiang soko masjid dan mustaka atau mahkota masjid telah hilang. Kondisi seperti ini terjadi dengan Masjid Alit Jatinom. Dikatakan tua dengan berbagai buktinya tetapi tidak ditandai dalam peta Belanda.

Di belakangnya terdapat makam-makam tua model Bayatan dari berbagai zaman. Diantara yang dimakamkan di belakang masjid adalah Jayeng Kewuh dan Jayeng Rono, beliau berdua dianggap sebagai cikal bakal desa/dusun.

Catatan tertua yang menyebut nama Kalesan atau Kalisan adalah pada Serat Sarasilah karya R. Ng. Ronggowarsito. Ronggowarsito menyebut bahwa terdapat nama Pangeran Kalesan sebagai Wali Bekel era Panembahan Senopati di Mataram Kotagedhe. Selanjutnya disebutkan terdapat nama Pangeran Kalesan 2 sebagai Wali Bekel era Sultan Agung di Mataram Kerta.

Dalam Babad Tanah Jawi, Babad Kartasura, Babad Kraton, Babad Sengkala dan Babad Mataram. Zaman Perang Trunojoyo era Amangkurat I di Mataram Plered dan Amangkurat II di Mataram Kartasura. Trunojoyo dibantu oleh Panembahan Romo dari Kajoran. Ketika Panembahan Romo pernah bermarkas di Mlambang, saat ini Semin, pertempuran pertama kali terjadi di Kalesan. Kubu musuh dipimpin oleh Surengkewuh dan Jangrana.

Dalam Babad Giyanti, di zaman pecahnya Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Pangeran Pamot pernah bermarkas di Kalesan.

Terdapat benteng stelsel di Gombang atau sebelah utara Kalesan. Oleh Saleh Asad Djamhari, benteng ini bernama Massaran dan dibuat di tahun 1829. Diabadikan juga dalam Peta Java Oorlog karya de Stuers, catatan perjalanan Mangkunegara IV dan Lelampahanipun Gandakusuma.

Belanda membangun benteng stelsel karena daerah tersebut rawan yakni wilayahnya para pengikut Pangeran Diponegoro. Setelah kawasan itu bisa direbut Belanda melalui pertempuran, Belanda langsung membuat benteng stelsel di sana. Adanya perebutan wilayah diperkuat adanya Peta Java Oorlog karya de Stuers dan Babad Diponegoro versi Manado yang menyebutkan terjadinya pertempuran di kawasan ini. Dua Tumenggung pengikut Pangeran Diponegoro gugur di pertempuran ini, yakni dari Weru dan Massaran.

Terdapat nama-nama lama di kawasan Masjid Kauman - Kalesan yang berhubungan dengan Kraton. Seperti Sosrowijayan dan Mojayan. Di selatan masjid terdapat areal yang disebut dengan Dalem Kadipaten, kemudian dikenal dengan nama Dukuh Dalem. Sedangkan nama Kalesan, oleh warga dianggap sebagai Lesanpura. Kawasan Kalesan ini masih ditemukan umpak kuno, lumpang kuno, bahwa arca Ganesha dan arca Agastya.

0 Komentar