Bumi Mamenang dan Masjid Syekh Syarifudin Gading Santren


Majelis Klaten - Masjid Syarifudin, nama ini dinisbatkan kepada tokoh yang dimakamkan di belakang Masjid yakni Syekh Syarifudin. Terkenal dengan sebutan Syekh Syarifudin Gading Santren. Walaupun sebenarnya baik di peta Belanda tahun 1920 tertulis Tulung.

Gading Santren merupakan salah satu Gading dari penamaan yang berawalan Gading di kawasan itu. Sedangkan kata Santren merujuk kepada topomin aktivitas warga di dukuh tersebut yakni kaum santri.

Penyebutan Santren untuk Dusun Gading tidak mengherankan, karena dusun ini merupakan pusat keislaman kala itu. Bahkan dari beliau Syekh Syarifudin Gading Santren inilah menurunkan Para Ulama dan Pejuang yang menorehkan tinta perjuangan mengusir penjajah dan penjajahan.

Masjid Syarifudin masih tergolong asli dan belum banyak renovasi. Cagak papat atau 4 tiang soko masjid masih terlihat kokoh. Bedug dengan gaya Surakarta terlihat gagah di serambi masjid. Ditambah mimbar asli masih terawat dengan baik. Cuman mustaka atau mahkota masjid konon dipindah ke salah satu masjid di Jambeyan, Karanganom. Sedangkan keberadaan pawestren, kata warga sekitar, sejak dulu tidak terlihat adanya pawestren. Jika dilihat memang tidak ada bangunan yang robohkan atau marger jadi bangunan inti masjid.

Menurut berbagai sumber, Syekh Syarifudin bernama asli BRM Tomo Joko Sasongko. Beliau putra dari Sinuhun Pakubuwana II dari putri  Ki Ageng Perwito di Ngreden (Wonosari, Klaten). Syekh Syarifudin ini menikah dengan putri Kyai Imam Besari (Ponorogo). Generasi selanjutnya, cucu putri yakni Nyai Ahadiyad menikah dengan Syekh Imam Rozi Singomanjat (Klaten)

Gading Santren dan kawasan Gading pada umumnya selain melibatkan diri dalam Perjuangan Pangeran Diponegoro juga berperan aktif pada masa-masa sebelumnya. Tercatat dalam Babad Giyanti, Gadhing atau juga sering disebut sebagai Mamenang merupakan markas Pangeran Adiwijaya. Pangeran Adiwijaya yang dimaksud adalah Pangeran Hadiwijaya Seda ing Kaliabu. Pendukung utama perjuangan RM Said atau Pangeran Sambernyawa atau kelak bergelar KGPAA Mangkunegara I. 

Selain itu, Mamenang juga disebut saat perlawanan Panembahan Romo Kajoran era transisi Mataram Islam di Pleret pindah ke Kartasura.

0 Komentar