Majelis Klaten - Masjid An Noor Muslim Ngolodono, Karangdowo, Klaten telah mengalami perpindahan. Posisi masjid saat ini, sebut saja sebagai masjid baru posisi kedua.
Awalnya masjid terletak di selatan jalan, sebut saja masjid baru posisi pertama. Setelah dibangun di sebelah utara jalan atau masjid baru posisi kedua. Lalu bangunan masjid dibongkar dan berdiri beberapa bangunan.
Awalnya berupa masjid lalu beralih fungsi menjadi TK kemudian berubah lagi menjadi Polindes. Sekarang tidak digunakan sama sekali.
Namun posisi masjid ini merupakan masjid baru. Menurut tutur lisan warga masyarakat, masjid yang pertama kali berada dari sekitar 100 meter ke arah barat. Terletak di pinggir barat dukuh. Dekat kompleks pemakaman tua. Konon masjid ini kemudian dipindah ke Majastho (Tawangsari, Sukoharjo). Bisa dilihat di kompleks pemakaman Ki Ageng Sutowijoyo atau Ki Ageng Majastho di Majastho, Tawangsari, Sukoharjo.
Peninggalan yang masih tersisa di masjid baru posisi kedua tinggal bedug dengan gaya Surakarta. Dengan beberapa nisan tua yang masih tersisa adalah Mataraman awal sampai era Sultan Agung.
Ngolodono atau Ngaladana atau Naladana atau Waladana merupakan tempat yang penuh sejarah. Tercatat dalam Babad Tanah Jawi, Babad Giyanti dan Babad Sultanan, Waladana pernah menjadi markas Pangeran Sambernyawa atau RM Said atau kelak bergelar KGPAA Mangkunegara I dan Pangeran Mangkubumi atau kelak bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Jauh sebelum Perang Giyanti. Waladana telah menjadi daerah yang makmur karena dianugerahi lahan pertanian yang subur.
Dalam sejarah Mataram Islam, raja pertama bernama Danan Sutowijoyo atau Panembahan Senopati. Kemudian dilanjutkan oleh putranya yakni Panembahan Hanyakrawati atau Mas Jolang.
Ada 2 putra dari Panembahan Hanyakrawati yang kemudian menjadi raja yakni RM Wuryah dan Mas Rangsang. RM Wuryah kemudian bergelar Panembahan Martapura. Menjadi raja sehari di Kasultanan Mataram Islam yang saat ini kedatonnya di Kotagedhe. Sedangkan Mas Rangsang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Mas Wuryah atau Panembahan Martapura hanya sehari menjadi raja. Konon hanya karena melunasi janji saja. Setelah purna menjadi raja, Mas Wuryah kemudian bergelar Pangeran Silarong. Ke manakah Pangeran Silarong itu berada? Ternyata tinggal di Waladana. Demikian yang tercatat di Babad Tanah Jawi, Babad Sengkala dan Babad Mantaram. Maka tidak mengherankan jika di Ngolodono ditemukan nisan/kijing Mataraman awal dan Hanyakrakusuman era Sultan Agung Hanyakrakusuma.

0 Komentar