Masjid Tegalampel, Masjid Awal di Karangdowo dan Jejak Perjalanan Putra Majapahit


Majelis Klaten - Masjid Tegalampel, Masjid Tegalampel terletak di Dukuh Tegalampel, Desa Tegalampel, Kecamatan Karangdowo, Klaten. Masjid Tegalampel saat ini diberi nama Masjid Baitul Muttaqiin.

Di depan masjid masih berdiri pohon asem. Pohon merupakan satu-satunya pohon yang masih tersisa di lingkungan Masjid Tegalampel. Dulunya ada pohon asem satu lagi, kemudian pohon tanjung, pohon kemuning dan pohon sawo. 

Arsitektur masjid masih tergolong asli, belum banyak berubah. Mustaka atau mahkota masjid masih asli terbuat dari tanah liat. Di pucuk gada nya terlihat burung bertengger menghadap ke barat. Model seperti ini terlihat di mahkota cungkup makam belakang Masjid Alit Jatinom. Cagak papat atau 4 tiang soko masjid masih asli. Menurut tokoh masyarakat, sejak dahulu memang tidak terlihat adanya pawestren maupun blumbangan. Bedug nya masih lestari dengan model gaya Surakarta.

Tradisi yang masih lestari adalah Sadranan. Sadranan dilangsungkan setiap bulan Ruwah di penanggalan Islam Jawa. Di bulan Ramadhan, sering dilakukan kenduri Khataman bagi jamaah yang telah khatam membaca Al Qur'an. Sedangkan di malam takbiran, diadakan kenduri syawalan.

Tegalampel sendiri berhubungan sejarah dengan Ki Ageng Sutowijoyo ing Majastho yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Majastho. Konon dahulu kala, ada putra Brawijaya V yang melarikan diri pasca Majapahit diserang Kediri. Beliau bernama Joko Bodo yang kemudian babat hutan bambu ampel. Maka daerah ini kemudian dinamakan Tegal - Ampel, ladang - bambu ampel.

Di Tegalampel ini Joko Bodo dikisahkan menikah dengan Nyai Mayang Sekar. Dari pernikahan ini memiliki dua orang anak: RAy Mus (perempuan) dan Raden Suradita (laki-laki)

Joko Bodo ini kemudian bertemu dengan Sunan Kalijaga. Setelah masuk Islam kemudian diperintahkan untuk ke timur dan mukim di sana. Pawiyatan Joko Bodo saat ini terletak di Majastho, sebuah Desa yang masuk Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo. Karena terjadi pergantian nama dari Joko Bodo menjadi Ki Ageng Sutowijoyo dan terletak di Majastho maka kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Sutowijoyo ing Majastho atau Ki Ageng Majastho.

Istri Ki Ageng Majastho ini dipercaya warga masyarakat Tegalampel dimakamkan di belakang Masjid Tegalampel ini.

Kompleks pemakaman belakang Masjid Tegalampel tidak terlihat nisan-nisan sepuh. Hanya terlihat beberapa nisan model kijing Bayatan tapi generasi muda. Cuman terlihat satu nisan model Mataram yang warga sekitar sendiri tidak tahu tokoh yang dimakamkan.

0 Komentar