Majelis Klaten - Masjid Agung Drono, demikian disebut. Terletak tengah perkampungan di Dukuh Drono, Desa Drono, Ngawen, Klaten. Kurang lebih berjarak sekitar 2 km dari Jalan Raya Solo - Jogja.
Di Peta Belanda tahun 1920 memang belum ada tanda masjid. Tetapi di pintu masuk masjid terdapat angka ١٣١٢ (1312) hijriyah jika dikonversi ke masehi menjadi 1895. Menunjukkan tahun 1895 Masehi masjid ini telah ada. Seperti di Masjid Alit Jatinom yang tidak tertulis oleh Belanda tapi secara kenyataan masjid itu ada.
Zaenuri, selaku Takmir Masjid mengisahkan berdasarkan tutur lisan warga bahwa masjid ini berdiri diawali adanya tokoh yang dimakamkan di Drono. Di awal Palihan Nagari yakni adanya Perjanjian Giyanti (tahun 13 Februari 1755), Karaton Kasultanan Ngayogyakarta menyampaikan kepada Karaton Kasunanan Surakarta bahwa ada Leluhurnya yang dimakamkan di Drono. Maka dari itu, Karaton Kasunanan Surakarta kemudian membangun sebuah masjid.
Dibuktikan dengan adanya percampuran corak Surakarta dan Yogyakarta di Masjid Drono. Dahulu mihrab pengimaman dan mimbar masjid berwarna hijau khas Yogyakarta, dan warna tiang dan kayu-kayu penyangga berwarna biru khas Surakarta.
Di depan masjid dulu merupakan bumi perdikan dari Karaton Kasunanan Surakarta. Dan ditinggali oleh para abdi Dalem. Maka dalam tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Drono sejak dulu mengambil malam 13 Mulud atau Rabiul Awwal, karena malam 12 Mulud atau Rabiul Awwal para abdi dalem dari Drono menghadiri Maulid Nabi SAW di Karaton Kasunanan Surakarta.
Tradisi Islam Jawa masih kental di Masjid Drono dan Drono pada umumnya. Mulai dari Sadranan, sampai ke kenduri-kenduri lainnya. Bangunannya sendiri masih terlihat asli. Masih terlihat adanya cagak papat atau 4 tiang soko masjid, pawestren, atap tumpang dua, mimbar dan tombaknya, lalu bedug gaya Surakarta walaupun sudah buatan baru namun tidak merubah tradisi asal.
Di belakang masjid terdapat kompleks pemakaman tua. Dengan nisan model Bayatan dan Mataram era Sultan Agung sampai Pakubuwanan. Masyarakat menyebut yang dimakamkan di sini adalah Mandurorejo. Sedangkan setelah ditelusuri, terdapat beberapa nama yang dimakamkan di sini.
Dalam Serat Silsilah Sukowati:
- Kyai Tumenggung Sujanapura Mantaram. Leluhur Karaton Kasultanan Ngayogyakarta. Yakni Hamengkubuwono V sampai Hamengkubuwono VI) dan Pakubuwana IX dari Karaton Kasunanan Surakarta lewat Pakubuwana IV.
- Raden Riya Mandurorejo, diambil anak oleh Kyai Tumenggung Wirosonta atau Pasingsingan. Menurunkan Pakubuwana IV.
- Nyai Tumenggung Dremo Sepakon putra dari Kyai Ngabehi Parasuto atau Sarasuto. Menurunkan Mas Ayu Mandurorejo, istri Raden Riyo Mandurorejo yang gugur Geger Pecinan, kemudian dimakamkan di Drana. Raden Riyo Mandurorejo merupakan putra Mandurorejo Tegal, putra Mandurorejo Perang Boyolali yang dimakamkan di Drono, putra Mandurorejo Kaliwungu.
- Raden Tumenggung Cakradipura I.
Dalam Silsilah Para Luluhur Kadanurejan
- Tumenggung Sisingan
- Nyai Ronggo Wiryakrama
- Raden Riyo Mandurorejo, gugur saat Geger Pecinan
- Raden Ayu Parasuta
- Raden Tumenggung Sujanapura Mantaram, putra Kyai Adipati Sujanapura gugur sampyuh dengan Adipati Pamekasan. Era Sultan Agung
- Kyai dan Nyai Demang Sepakon
- Kyai Sarasuta
Dalam catatan Ki Padmasusastra tahun 1898 Masehi, Drana tercatat menjadi salah satu tujuan tempat Sadranan dari Karaton Kasunanan Surakarta. Mungkin dari sinilah penamaan Puspa Astana untuk masjid kompleks pemakaman ini dimulai.
Uniknya, di kompleks pemakaman belakang masjid terdapat banyak ornamen yang warna-warni. Khususnya di salah satu gedong (bangunan) makam. Kemudian terdapat inisial HB kemungkinan HoBo atau inisial dari Hamengkubuwono. Dengan angka Jawa 1804.

0 Komentar