Majelis Klaten - Di Peta Belanda tahun 1920 Masehi terlukis masjid ini terletak di Beji. Tepatnya terletak di Dukuh Bandung, Desa Beji, Kecamatan Tulung, Klaten, dengan nama Masjid Al Munawarrah.
Kondisi masjid masih tergolong baik, terawatt dan lestari keasliannya. Masih terlihat cagak papat atau 4 soko masjid, atap tumpang dua (2) dan bentuk bangunannya. Di sini juga terdapat jam matahari yang berada di dalam masjid. Selain itu, mustaka atau mahkota masjid tinggal yang serambi yang masih asli.
Di masjid ini memang tidak terdapat pawestren, atau ruangan khusus di masjid untuk tempat sholat perempuan. Alasannya karena sejak dahulu, kaum perempuan disediakan tempat tersendiri untuk sholat semacam musholla yang terletak di sebelah timur masjid. Bekas musholla perempuan ini sekarang didirikan sekolahan MI (Madrasah Ibtidaiyah) walaupun kemudian dibangun baru di seberang jalan.
Masjid ini didirikan pada tahun 1864 Masehi, sesuai tulisan di ander blandar masjid. Namun menurut Muhammad Shonhaji, Masjid Bandung didirikan pada tahun 1816. Konon dahulu kala di tahun 1800an di Kartasura (mungkin Surakarta) diadakan samyembara bagi yang mampu membendung sungai. Tampillah Mbah Ronggo yang berhasil membendung sungai. Mbah Ronggo kemudian mendapatkan tanah perdikan di Beji, Tulung, Klaten. Raja Surakarta yang membendung sungai adalah Pakubuwana IV yang memerintah antara 1788 – 1820. Menurut Dani, sejarahwan Solo mengatakan bahwa di masa pemerintahan Pakubuwana IV ini pernah dilakukan pembendungan Kali Samin.
Dari tanah perdikan inlah kemudian Mbah Ronggo membina masyarakat termasuk membangun masjid. Tokoh lain yang berkaitan dengan Masjid Bandung adalah Kyai Abdul Jabbar dan Kyai Dimyati, beliau berdua merupakan Ulama utusan dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kemungkinan Kyai Abdul Jabar dan Kyai Dimyati merupakan masa setelah Mbah Ronggo, sebagai penerus Mbah Ronggo.
![]() |
| Keterangan: Peta Belanda tahun 1920 |
Beji pada pergolakan zaman setelahnya mengambil peran penting dalam syiar dakwah dan jihad Islam. Dalam Peta Perang Jawa (De Java-Oorlog) buatan de Stuers (Hubert Joseph Jean Lambert, ridder de Stuers) mencantumkan jalur perang melewati Beji ini. Rutenya dari Jatinom (Klaten) ke arah utara Singosari (Boyolali) melewati Kado (sekarang bernama Kadut, masuk Desa Bono, Kecamatan Tulung, Klaten).
Memang Beji tidak tercantum dalam Peta Perang Jawa tetapi jarak Kadut ke masjid ini (Bandung) sekitar dua (2) kilometer. Diperkuat dengan ditemukannya Makam Yudo Menggolo di Dukuh Sempol Bimo (Kiringan, Tulung), sebuah dukuh diantara Kadut dengan Bandung. Oleh warga masyarakat dipercaya sebagai pengikut Diponegoro yang gugur. Bentuk nisan Yudo Menggolo terlihat nisan kijing Bayatan dengan model rentang waktu sekitar Perang Diponegoro.
![]() |
| Keterangan: Titik lokasi Masjid Bandung dalam Peta De Java-Oorlog buatan de Stuers |
Masjid Bandung kemungkinan menjadi salah satu ring (garis pertahanan) dalam Pasukan Diponegoro. Keberadaan masjid merupakan syarat wajib bagi keberadaan pasukan Diponegoro. Ungkapan ini berdasarkan semboyan Pangeran Diponegoro yang menganggap perang ini sebagai Perang Sabil. Anggapan ini dikuatkan dengan keberadaan kelompok pasukan yang ditugaskan Pangeran Diponegoro di kawasan ini, yakni Bulkiyo. Bulkiyo merupakan pasukan yang taat dalam menjalankan syariat Islam, berpakaian campuran Jawa dengan Islam, ahli dalam memanah dan naik kuda.
Dalam merebut Jalur ini antara Pulowatu - Jatinom – Kado – Singosari – Slembi – Manggis sampai Boyolali, Belanda harus membentuk Daerah Operasi Khusus. Dalam buku De Java-Oorlog , pada tahun 1827, Belanda membentuk Daerah Operasi Timur: Kolone Mobil 1 dibawah komando Mayor de Leeuw bergerak dari markasnya di Boyolali ke Singosari, Jatinom dan berhenti di Pulowatu (sekarang bernama Demakijo, Karangnongko, Klaten). Pasukan Dezentje dari markasnya di Ampel akan bergerak ke Getasan dan Jatinom. Jatinom akan menjadi link – up dengan Pasukan Kolone Mobil 1 kemudian bersama-sama menuju Pulowatu.
![]() |
| Keterangan: lokasi pertempuran Diponegoro dalam Peta De Java-Oorlog buatan de Stuers |
Pada 22 Februari 1827 Jenderal de Kock memerintahkan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela untuk menyerbu Jatinom, tetapi desa itu telah kosong. Kemudian desa-desa disekitarnya dibakar habis, lalu serangan diteruskan ke arah Singosari. Di Singosari sendiri Pasukan Diponegoro menyambutnya dengan jumlah 1600 orang dengan bersenjata lengkap.
Pada April 1827, Jatinom diserbu lagi oleh Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Pasukan Diponegoro yang berjumlah 1500 orang berhasil dipukul mundur dan mundur ke Kepurun (Manisrenggo, Klaten). Tidak lama kemudian, ternyata berhasil dikuasai lagi oleh Pasukan Diponegoro. Maka pada 2 Juni 1827 Jatinom diserang lagi oleh Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Jatinom sendiri dipertahankan oleh 2000 pasukan yang sebagian besar dari kesatuan Bulkiyo. Dalam peristiwa ini terdapat 70 orang pasukan Diponegoro yang gugur. Pangeran Diponegoro sendiri berada di Sekar, kaki Gunung Merapi dengan kekuatan 1500 orang.
Dalam desertasinya Saleh A Djamhari dalam judul Stelsel Benteng, dalam Pemberontakan Diponegoro 1827 – 1830, Suatu Kajian Sejarah Perang disebutkan tahun pendirian benteng-benteng stelsel. Tahun pembuatan Benteng Singosari itu 1827. Tahun pembuatan Benteng Jatinom juga 1827.
![]() |
| Keterangan: benteng stelsel di Singosari dan Jatinom dalam Peta De Java-Oorlog buatan de Stuers |
Dalam Peta Perang Jawa (De Java-Oorlog) buatan de Stuers di antara Kado (Kadut) dengan Jatinom memang merupakan lokasi pertempuran. Ternyata data tentang peristiwa di Jatinom sampai Singosari ini tidak hanya dicatat oleh Belanda dalam buku De Java-Oorlog. Pangeran Diponegoro sendiri mencatatnya dalam Babad Diponegoro yang ditulis di Manado. Bahkan Karaton Kasultanan Ngayogyakarta juga mencatatatnya dalam Babad Dipanegara ing Nagari Ngayogyakarta Adiningrat.s
Di awal kemerdekaan Republik Indonesia, Bandung masih terlibat dalam perjuangan bangsa. beberapa meter ke arah barat dari masjid, terdapat rumah yang digunakan sebagai persinggahan Pasukan Hijrah SIliwangi. Konon dari Bandung ini kea rah timur untuk memukul pemberontakan PKI di Madiun.
Di sekitaran tahun 1965, Masjid Bandung pernah akan dihancurkan oleh PKI namun gagal. Pintu dan tiang masjid akan dibakar, tiangnya selain akan dibakar juga akan dicongkel namun tidak pernah berhasil.





0 Komentar