Ilir-ilir Masjid Karang Blimbing Kuwel, dan Markas Para Raja Jawa

Majelis Klaten - Nama Keprabon di tahun 1920 tidak tertulis di Peta Belanda. Keprabon sendiri berasal dari kata Prabon, sebuah dukuh yang sekarang masuk wilayah Desa Keprabon. Saat ini Masjid Al Fatah terletak di Dukuh Kauman, Keprabon, Polanharjo, Klaten.

Nama lama desa ini adalah Kuwel atau Koewel. Di tahun 1895 Koewel setingkat Kamantren Distrik, posisi dibawah distrik. Kamantren Distrik Koewel dibawah Distrik Delanggoe.

Kamantren Distrik Koewel di tahun 1905 dibawah Distrik Ponggok, Kaboepaten politie di Klaten. Kemudian diganti namanya menjadi Kamantren Distrik Polanharjo.

Dalam Babad Pajajaran dumugi Demak, disebutkan nama Umbul Kuwel. Ini di zaman Sri Mangkurung Prabu Andayaningrat dari Pengging. Berkaitan dengan pengangkatan seorang Patih dari Umbul Kuwel.

Pada saat Pangeran Puger atau Susuhunan ing Ngalaga atau Sunan Ngalaga yang kelak bergelar Susuhunan Pakubuwana I berseteru dengan Susuhunan Amangkurat II atau Susuhunan Amral di Kartasura, Desa Kuwel menjadi markas dari Pangeran Puger ini.

Kuwel Koripan menjadi saksi Perang Geger Pecinan di era Pakubuwana II. Sehingga Karaton pindah dari Kartasura ke Surakarta.

Di era Giyanti, awal pecahnya Mataram menjadi Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran, Kuwel menjadi markas dari Pangeran Mangkubumi atau yang kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I dan Pangeran Sambernyawa atau RM Said atau yang kelak bergelar KGPAA Mangkunegara I.

Masjid saat ini bernama Al Fatah. Konon didirikan oleh Sunan Kalijaga. Dahulu bernama Masjid Karang Blimbing. Nama Al Fatah diambil dari tokoh agama dan masyarakat setempat yakni Kyai Abdul Fatah. Beliau diperkirakan hidup rentang tahun 1852 sampai 1952. Kyai Abdul Fatah dikisahkan sangat melindungi warga dari keberingasan Belanda.

Masjid ini tergolong masih asli bangunannya. Masih terlihat cagak papat atau 4 tiang soko masjid. Atap tumpang dua (2). Sedangkan terjadi pelebaran bangunan inti masjid, sehingga pawestren dibangun menjadi satu dengan bangunan inti.

Di belakang masjid terdapat kompleks pemakaman tua. Terdapat variasi periode nisan. Ada nisan Hanyakrakusuman era Sultan Agung, Mataram Pakubuwanan, dan Bayatan. Terdapat makam seorang tokoh bernama Nyai Gablok dengan nisan Hanyakrakusuman era Sultan Agung. Selain kompleks pemakaman belakang masjid, di kawasan ini total terdapat 8 (delapan) kompleks pemakaman yang tidak jauh dari masjid.

0 Komentar