Masjid Agung - Raya Klaten Lama, Masjid Para Penghulu Kadipaten Klaten Lampau

Majelis Klaten - Selama orang-orang akan menganggap bahwa Klaten baru memiliki Masjid Raya Klaten semenjak tahun 1950. Saat ini berada di samping Alun-alun Klaten. Didirikan di bekas-bekas Benteng Engelenburg (Fort Engelenburg). Sebuah benteng Belanda yang dibangun pada 28 Juli 1804. Pasca Perjanjian Giyanti, yang ditandatangani pada 13 Februari 1755.

Klaten selain memiliki Masjid Raya Klaten, juga memiliki Masjid Agung Klaten. Masjid Agung Klaten dinamakan dengan Masjid Agung Al Aqsha Klaten saat ini.

Ternyata, jauh sebelum Masjid Raya Klaten dan Masjid Agung Al Aqsha Klaten berdiri, Klaten telah memiliki Masjid Raya atau Agungnya sendiri. Masjid ini merupakan Masjid Pusat Keislaman Klaten. Tepatnya sebelum Republik Indonesia ini berdiri. Pada zaman Klaten masih berupa Kadipaten/Kabupaten dibawah Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Klaten sendiri berdiri diperingati setiap tanggal 28 Juli. Karena diambil dari pendirian Benteng Engelenburg pada 28 Juli 1804. Kemudian dikuatkan oleh semacam Surat Keputusan dari Pakubuwana VII dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pada 5 Juni 1847 tentang bahwa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengadakan 6 (enam) Kabupaten, yaitu: Nagara Surakarta, Kartasura, Klaten, Boyolali, Ampel dan Sragen.

Semenjak tahun-tahun tersebut, Klaten telah resmi merupakan Pemerintahan Kadipaten/Kabupaten dibawah Negara Surakarta. Dengan ini otomatis Klaten memiliki seperangkat pemerintahannya sendiri. Mulai dari Kliwon, Jaksa sampai Penghulu/Pengulu.

Beberapa nama Pengulu Klaten yang tercatat adalah: 

1. Kyai Ngabdul Kadir (1889 - 1895)

2. Kyai Mukyidin (1911)

3. Kyai Kabarudin (1920)

Berdasarkan tutur juga ada nama satu lagi, yakni Kyai Qomaruddin. Kyai Qomaruddin dimakamkan di Sungkur. Beliau putra dari Kyai Ngabdul Kadir. Kyai Ngabdul Kadir sendiri merupakan keturunan dari Kyai Abdul Jalal dari Kalioso (Sragen). Kyai Abdul Jalal Kalioso merupakan Ulama dan Guru dari Pakubuwana IV. Merupakan simpul keturunan dari Sultan Hadiwijaya (Pajang), Panembahan Senopati (Mataram) dan Sunan Giri.

Nama lain selaku pengurus Masjid Sidowayah adalah Kyai Sofwan atau Kyai Sapuan. Beliau putra dari Kyai Qomaruddin tadi. Kyai Sapuan memiliki murid/santri sekaligus putra angkat bernama KH Mufid Mas'ud, pendiri PP Sunan Pandanaran di Yogyakarta.

Seberang timur laut Masjid Sidowayah, duhulunya berdiri rumah dari Bupati Klaten yakni Tumenggung Martonagoro. Rumah itu saat ini menjadi Dinas PU dan PR Kabupaten Klaten.

Para Pengulu Klaten ini bertempat kedudukan di sebuah Masjid yang saat ini diberi nama Masjid Sidowayah. Terletak di Kampung Sidowayah, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten. Rumah Para Penghulu Kadipaten Klaten dipercaya terletak di sebelah utara Masjid Sidowayah.

Masjid Sidowayah memiliki arsitektur yang luar biasa. Bangunan terdiri dari 3 (tiga) bangunan utama: bangunan inti, serambi dan pawestren. Ketiganya masih lestari, khususnya serambi yang ditopang oleh 8 (delapan) tiang yang tinggi dan kokoh. Sedangkan bangunan inti masjid, ditopang 4 tiang soko atau cagak papat.

Atap masjid bertumpang 2 (dua). Di serambi masjid masih terawat bedug dengan gaya Surakarta. Dahulu, di depan masjid berdiri pohon sawo. Biasanya pohon sawo berkaitan dengan jejak perjuangan Pangeran Diponegoro. Dibuktikan dengan Peta Perang Jawa buatan de Stuers tahun 1835, titik diseberang Benteng Engelenburg atau areal Masjid Sidowayah saat ini pernah dibariskan beberapa kolone (semacam Batalyon).

0 Komentar