Majelis Klaten - Masjid Nur Sulaiman terletak di Dukuh Kaligawe, Desa Kaligawe, Pedan, Klaten. Dahulu orang-orang hanya menyebutnya sebagai Masjid Kaligawe, Pedan. Nama Nur Sulaiman sendiri diambil dari nama Ulama setempat yang bernama Kyai Sulaiman.
Masjid Kaligawe bisa dikatakan masih asli, tidak merubah aslinya. Masih terdapat mimbar kunonya, cagak papat atau 4 tiang soko masjid, bedug asli gaya Surakarta, mustaka atau mahkota masjid walaupun hanya terlihat gadanya saja. Sebelah utara, bergandengan pawestren.
Sedangkan blumbang dan pohon-pohon sudah tidak terlihat lagi. Walaupun blumbangan sudah hilang, tetapi saluran airnya masih terlihat. Dahulu di sekitar masjid banyak pohon kelapa gading dan pohon kemuning.
Masjid, Makam dan warga masyarakat masih meneruskan tradisi Islam Jawa seperti: khataman di Bulan Suci Ramadhan di tanggal 15 dan 29 Poso; Sadranan; Rasulan; Apeman menjelang memasuki bulan Ramadhan dan Kupatan. Selain Kyai Sulaiman, tokoh lain yang dihormati adalah Syekh Joko. Belum banyak catatan tentang beliau. Namun oleh warga maupun di internet disebut Syekh Joko hidup di masa transisi Majapahit ke Demak.
Sedangkan nisan-nisan tua di Makam kawasan Masjid Kaligawe kebanyakan bercorak nisan model Bayatan. Juga model tersendiri dari watu item atau batu andesit, model ini banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Pedan.
Masjid Kaligawe memiliki tiga bangunan. Pertama serambi luar, serambi dalam dan bangunan inti. Di bangunan inti ini juga digandengkan dengan pawestren. Di bangunan inti, dijumpai pintu maupun jendela yang kuno model lama.
Menurut tutur lisan warga masyarakat setempat, konon Sinuhun Pakubuwana IX yakni Raja Kasunanan Surakarta pernah singgah di masjid ini. Diperkuat dengan diabadikannya simbol tulisan PB IX di atas pengimaman (walaupun sudah hilang) dan di gapura masjid.

0 Komentar