Majelis Klaten - Masjid Baitul Muharram, merupakan penamaan saat ini dari sebutan Masjid Gedhe Karanganom.
Mengapa penulis menyebutnya 'gedhe' atau besar bukan hanya karena ukurannya yang besar. Melainkan juga simpul sejarah yang dibentuk begitu besar.
Secara bangunan, Masjid Baitul Muharram sudah benar-benar baru. Dirombak total tidak menyisakan kekunoan dan keaslian. Paling tidak cagak papat atau 4 tiang soko masjid yang terbuat dari cor beton. Tetapi seperti pawestren tempat sholat khusus perempuan, bedug, mimbar mustaka atau mahkota, blumbangan dan pohon-pohon tertentu sudah tidak terlihat lagi.
Walaupun demikian, di belakang masjid merupakan kompleks pemakaman tua. Dimakamkan banyak tokoh penting yang kemudian menurunkan Para Ulama di kawasan Solo Raya dan Jogja Raya.
Dimakamkan Kyai Bagus Mustahal. Kyai Mustahal menurunkan Kyai Reso Prawiro yang juga dimakamkan di belakang Masjid Baitul Muharram.
Simbah Kyai Bagus Mustahal merupakan putra dari Kyai Umar Sa'id atau Sunan Nglawu yang makamnya di Nglawu, Sukoharjo. Satu kompleks dengan makam Kyai Hasan Mukmin Nglawu, Sukoharjo. Di situ ada dua Hasan Mukmin, yakni Simbah Kyai Hasan Mukmin Nglawu dan Simbah Kyai Hasan Mukmin Langenharjo. Kedua makam beliau hanya dibatasi oleh sungai.
Kembali ke Kyai Mustahal tadi, lewat Kyai Reso Prawiro kemudian menurunkan diantaranya KH Mas'ud Mufid, Pendiri PP Sunan Pandanaran (Yogyakarta) dan KH Muhammad Syafi'i dari PP Ta'mirul Islam Surakarta.
Kyai Reso Prawiro juga menurunkan Kyai Mudo yang babad desa dan memprakarsai berdirinya Masjid Kadirejo.
Di selatan Masjid Baitul Muharram terdapat sebuah rumah tua, model tua, yang tidak terawat. Sebelah kanannya terdapat sumur, pohon sawo dan kepel. Tidak diketahui sejarah dan pemilik rumah itu.
Masjid Baitul Muharram terletak di pusat pemerintahan dan ekonomi yang padat dan ramai. Menjadi pusat pemerintahan sejak kolonial Belanda sampai era Republik Indonesia. Di Karanganom juga dulunya terdapat pabrik gula.


0 Komentar