Mas Bupati Klaten: Marilah Mengenal dan Meneruskan Perjuangan Sunan Pandanaran

Majelis Klaten - Selain mendoakan beliau, hadir dari Majelis Pengajian ini untuk mengenal ketokohan dan perjuangan di Klaten, sehingga perlu untuk diteruskan. Pesan ini disampaikan oleh Mas Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo dalam sambutannya pada Pengajian Akbar dalam rangka Haul Agung Sunan Pandanaran.

"Selain mendoakan beliau, kita hadir di majelis ini untuk lebih mengenal ketokohan beliau (Sunan Pandanaran) dan perjuangannya, sehingga kita teruskan" ungkap Hamenang

Dalam kesempatan ini, Kyai Asvin menyampaikan makanan yang barokah itu merasuk dalam tubuh menjadikan diri semangat dalam beribadah, hati yang tenang dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

"Makanan yang ada doanya, di majelis mulia, di Haul Agung seperti ini, apalagi di Sunan Pandanaran, jalur-jalur barokah yang turun deras, kok ada yang makan (dari acara tersebut), dimakan, masuk menjadi darah, jadi tulang, jadi daging yang merasuk dalam tubuhnya. Orang kok berkah badannya, diberikan ringan badannya untuk ibadah, dilindungi Allah, hatinya selalu bahagia. Karena makanan itu berbeda dengan pakaian atau sandal, beda" kata Rektor INSURI Ponorogo

Haul Sunan Pandanaran sendiri dilaksanakan pada Sabtu malam Ahad, 24 Januari 2026. Pukul 19.45 WIB atau ba'da Isya' di Pendopo Patembayatan sampai Taman Parkir Makam Sunan Pandanaran. Diiringi oleh Hadroh Askarul Musyidin, ceramah oleh Dr. Kyai Muhammad Asvin, Pengasuh Ponpes Durar Ridlo dan Rektor INSURI Ponorogo.

Tema yang dianbil adalah Sunan Pandanaran: Sang Wali Penanda Zaman. Mengingat pentingnya posisi dan peran Sunan Pandanaran dan Bhumi Tembayat dalam setiap perjalanan dan pergolakan zaman, mulai dari peralihan Majapahit ke Demak, sampai zaman Perang Jawa yang dipelopori oleh Pangeran Diponegoro.

Bayat merupakan hulu dari Trah Giring dan Wangsa Kajoran yang mashyur itu. Tercatat Ki Ageng Giring II dan Panembahan Agung Kajoran merupakan menantu dari Sunan Pandanaran. Keluarga Kasultanan Pajang dan Kasultanan Mataram Islam sendiri kemudian menguatkan legalitas politik dengan jalur pernikahan. 

Saat Gegeran Bedhahing Pleret era Amangkurat I, Bayat melalui Panembahan Romo Kajoran menjadi tokoh pentingnya. Walaupun kemudian, Bayat, Kajoran dan Giring dikepung dan banyak yang melarikan diri, diantaranya melarikan diri sampai Ponorogo yakni Sumendi Wongsodriyo, kemudian secara keilmuwan menurunkan Kyai Kasan Besari dengan muridnya yang mashyur yakni Ronggowarsito. 

Setelah itu, Bayat masih mengambil peranannya sebagai pusat spiritual, sehingga Pangeran Diponegoro sowan dan meminta restu kepada Kyai Ngabdani dan Kyai Anom sebelum memulai perang panjang. (Ded/Dew)


0 Komentar