Masjid Tiban Puluhan yang Selalu Menghidupkan Malam dan Jejak Mengusir Belanda


Majelis Klaten - Masjid Tiban Puluhan merupakan salah satu masjid tua di Klaten yang sering diliput setelah Masjid Golo Tembayat dan Masjid Kajoran.

Masjid ini dipercaya didirikan oleh Sunan Kalijaga. Diperkuat dengan beberapa peninggalan yang masih tersimpan rapi seperti: padasan, bedug, mustaka atau mahkota masjid, bekas cagak papat, mimbar dan tombaknya, amben, dan Al Qur'an. Walaupun secara bangunan sudah baru.

Berdasarkan tutur lisan warga Dukuh Wiro, Desa Wiro, Bayat, Klaten menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga dalam semalam mendirikan tiga (3) masjid, yakni: Masjid Tiban Wiro, Masjid Tiban Jeto dan Masjid Tiban Puluhan.

Masjid dan warga Puluhan masih melestarikan tradisi Islam Jawa. Baik Rasulan sampai kenduri-kenduri lainnya. Bahkan sholawatan Jowo masih lestari di sini.

Sampai saat ini, Masjid Tiban Puluhan dikunjungi banyak orang. Khususnya di malam hari untuk melaksanakan sholat dan dzikir-sholawat kepada Allah.

Keberadaan Masjid Tiban Puluhan pernah masuk dalam majalah Pustaka Jawi dari Java Instituut tahun 1929. Menyebutkan bahwa pernah dilakukan peliputan dan tulisan di edisi tahun 1928, angka 11-12, halaman 173.

Kawasan Dukuh Puluhan saat ini terdapat setidaknya terdapat lima (5) kompleks pemakaman tua. Namun setelah dikelilingi nyaris tidak terdapat jejak makam tua. Padahal dalam setiap catatan sejarah kawasan Puluhan ini menjadi saksi perjuangan mengusir Belanda.

Dalam Babad Tanah Jawi, Babad Kraton, dan Babad Kartasura terdapat suatu tempat yang dinamakan Kalesan atau Kalisan atau Talesan. Tempat ini menjadi lokasi ketika Panembahan Romo Kajoran mendukung Trunojoyo melawan Amangkurat II dari Kartasura. Dimanakah Kalesan itu, disebutkan dalam Babad Sengkala bahwa Kalesan itu dekat atau bagian dari Karangasem. Karangasem saat ini terletak di sebelah utara masjid. Selain itu, tulisan Kajawan dari Balai Pustaka, 1937-12-04, menyebut bahwa Kalesan itu tidak jauh dari Gombang, Telingsing, Bagor dan Tumpukan. Dari sana dapat diambil kesimpulan bahwa Kalesan itu kawasan Puluhan saat ini.

Di sekitaran era Perjanjian Giyanti, pecahnya Mataram menjadi Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran, Puluhan juga mengambil peran. Dalam peta Belanda 1920, dukuh Puluhan menempati dukuh Karangri saat ini. Dalam peta juga disebut nama lama Karangri adalah Karangturi. Lalu bagaimana dengan Dukuh Puluhan saat ini, tempat kedudukan masjid, saat itu ditulis Karangasem. Terus bagaimana kepastian antara dukuh Puluhan saat itu di peta dengan dukuh Puluhan saat ini? Perlu penelitian lebih.

Lanjut tentang babad, dalam Babad Giyanti, Babad Mataram, Babad Panambang dan Babad Kemalon II (Pakunagara II), Karangturi atau Karangri pernah menjadi markas dari Pangeran Sambernyawa atau RM Said atau KGPAA Mangkunegara I. Pernah terjadi pertempuran di utara Karangri atau kawasan Puluhan saat ini.

Kawasan ini Masjid Tiban Puluhan bukan satu-satunya masjid tua, masih ada Masjid Tiban Karangkulon dan Masjid Tiban Babad.

0 Komentar