Majelis Klaten - Masjid Alit Jatinom merupakan salah satu bukti jejak perjuangan Ki Ageng Gribig. Masjid Alit Jatinom merupakan satu-satunya masjid tua di Jatinom yang masih lestari dan asli. Walaupun pada tahun 1978 pernah direnovasi tetapi keasliannya tidak berubah.
Sebagaimana masjid tua lainnya, Masjid Alit Jatinom terdapat ciri. Ciri terdiri dari mihrab masjid, cagak papat atau 4 tiang soko masjid, pawestren, mustaka atau mahkota masjid dan atap tumpang. Masjid Alit sendiri dibangun di atas tanah seluas 630 meter persegi.
Mihrab Masjid Alit Jatinom cukup unik. Di bibir mihrab menonjol ke dalam dan dihias sulur-sulur bunga. Di Klaten, tinggal Masjid Alit dan Masjid Belan lama (juga di Jatinom, tidak jauh dari Masjid Alit) yang memiliki motif mihrab masjid ini. Model motif mihrab seperti ini khas era Demak dan Pajang, seperti di Masjid Kalinyamat (Jepara) dan Masjid Makam Sunan Muria (Kudus).
Oleh warga sekitar, dipercaya bahwa keberadaan Masjid Alit Jatinom merupakan lebih dulu dari Masjid Besar Jatinom. Masjid Alit Jatinom merupakan pioner pusat keagamaan Islam di Jatinom.
Kemungkinan Masjid Alit Jatinom berdiri sebelum Ki Ageng Gribig lahir atau di Jatinom. Karena dalam Serat Silsilah Luluhur Kadanurejan dan Serat Candra kantha disebutkan bahwa Ki Ageng Gribig merupakan putra dari Kyai Ageng Gethayu, yang memiliki peliharaan Burung Beri. Kyai Ageng Gethayu putra dari Wasi Jiwa atau Pangeran Rangkaknyana, putra dari Wasi Bagegno atau Joko Dolog, putra dari Brawijaya V. Joko Dolog ini kemudian bersahabat dengan Sunan Pandanaran ing Tembayat dan Sunan Kalijaga, lalu ditempatkan untuk Syiar dan Dakwah Islam di Jatinom.
Masjid Alit Jatinom masih memiliki cagak papat atau 4 tiang soko masjid. Masih memiliki mustaka atau mahkota masjid yang terbuat dari tanah liat. Atapnya berbentuk tumpang tiga (3). Pawestren masjid masih terlihat walaupun difungsikan lain. Duhulu di depan masjid terdapat pohon kemuning, sawo dan tanjung. Sedangkan bedug dan blumbangan tidak terlihat lagi.
Di belakang Masjid Alit Jatinom terdapat kompleks pemakaman. Makam utama yang di gedong, tertulis Kyai Mintorogo dan Nyai Damarjati. Kedua makam tersebut dengan corak nisan kijing model Bayatan. Demikian pula dengan rata-rata corak nisan kijing lain di kompleks ini. Puncak gedong/bangunan makam Kyai Mintorogo dan Nyai Damarjati juga dihias mustaka atau mahkota yang terbuat dari tanah liat. Puncak mustaka atau mahkota tersebut berupa gada yang ada semacam burung.
Di kompleks pemakaman ini, tepatnya di belakang pengimaman Masjid diyakini sebagai sisa-sisa pohon jati atau "tunggak jati" sebagai cikal bakal penamaan Jati Anom atau Jatinom.
Menurut warga, kata Sememen dari nama Dukuh Sememen tempat kedudukan masjid ini berasal dari kata Sumemi. Sumemi adalah diambil dari nama Nyai Sumemi keturunan dari Ki Ageng Gribig yang menikah dengan KGPAA Mangkunegara III dari Praja Mangkunegaran Surakarta.
Di kawasan Masjid Alit maupun Masjid Besar Jatinom dan makam Ki Ageng Gribig ditemukan banyak batu-batu tua. Dimungkinkan merupakan sisa-sisa candi, baik Hindu maupun Buddha.

0 Komentar